Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 08 Juni 2017 11:01 WIB

Perjuangkan Batik Banyuwangi, Marifatul Kamila Ingin Budaya Lokal Mendunia

Banyuwangi, HanTer - Di mata seorang seniman, warna bisa dijadikan ikon dan juru bicara kebudayaan yang memiliki kekuatan simbolik. “Alam di sekitar kita menyajikan warna-warni yang sangat kaya. Dari situ kita mengidentifikasi persepsi manusia terhadap warna-warni benda yang ada di alam, kemudian kita tuangkan dalam berbagai bentuk karya, diantaranya melalui seni Batik,” tukas Marifatul Kamila, SH, dalam perbincangan budaya dengan sejumlah wartawan, di kediamannya, di kota Banyuwangi, belum lama ini.
 
Menurutnya, warna memiliki korelasi dengan karakter individu dan kebangsaan. Sebuah institusi bisnis, misalnya, biasanya mempunyai corporate color. Negara memiliki color of nation yang umumnya tercermin di bendera Nasional mereka. “Partai-partai politik menggunakan simbol-simbol warna untuk menunjukkan identitas dan eksistensi di benak para pengikutnya,” papar seniman, yang juga politisi, Anggota DPRD Banyuwangi dari Fraksi Partai Golkar ini.
 
Perempuan kelahiran Banyuwangi, 31 juli 1973 ini, adalah satu dari sekian banyak seniman Batik yang ada di kota paling ujung Timur pulau Jawa. Melalui seni Batik, Ifa, demikian sapaan akrabnya, ingin mengenalkan Banyuwangi pada dunia.
 
“Batik Banyuwangi harus dikenal dan bahkan harus lebih populer di banding karya Batik dari daerah lain. Saya ingin Batik Banyuwangi di kenal di seluruh dunia,” ujar pendiri dan pemilik Rumah Batik Kharisma Banyuwangi, dengan belasan pengrajin Batik ini.      
 
Batik Kharisma kini tidak hanya di pasarkan di Banyuwangi dan kota-kota di Jawa Timur dan sekitarnya, melainkan juga terdistribusi hingga ke Bali dan Jakarta. Untuk produk-produk tertentu, terang Ifa, Batik Kharisma juga dibeli dan menjadi koleksi warga mancanegara yang berkunjung ke Bali dan Banyuwangi. Pengukuhan Batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO, setidaknya kian membuka peluang pasar Batik di mancanegara.
 
Bagi Ifa, membatik bukan hanya kegiatan bersifat ekonomis, melainkan juga kegiatan budaya, serta dapat dijadikan sarana pembentukan karakter. Pendidikan karakter bangsa, kata Ifa, harus menjadi dasar bagi terwujudnya spirit kebangsaan. Hal ini salah satunya dapat dihasilkan melalui pemberdayaan kultural (Seni Membatik).
 
“Sekarang ini teknologi informasi (IT) makin canggih. Pemanfaatan IT tidak bisa ditawar. Tapi tidak boleh melupakan akar budaya. Iptek harus tumbuh berbasis kultural agar menghasilkan kesejahteraan sesuai peradaban bangsa. Salah satunya kami tanamkan melalui kriya Batik,” ujar perempuan yang pernah membintangi Film Televisi Produksi Lokal Banyuwangi Tak Selamanya Putih dan Sritanjung Sidopekso ini.
 
Apa yang diupayakan Ifa, sejalan dengan kebijakan Pemerintah Daerah Banyuwangi, yang kini terus menggiatkan masyarakatnya melalui berbagai event kebudayaan. Sejak penyelenggaraan Banyuwangi Ethno Carnival tahun 2011, kegairahan masyarakat Banyuwangi seakan tak terbendung untuk mengangkat potensi dan budaya daerahnya, baik melalui kegiatan yang bersifat seni, budaya, fesyen, dan wisata olahraga.
 
Pemberdayaan generasi muda sebagai frontliner untuk melestarikan budaya bangsa Indonesia sangat dibutuhkan.  Hal ini untuk mempercepat kemajuan industri berbasis budaya dan pariwisata Indonesia di masa mendatang. Oleh karena itu, Ifa berharap pesona budaya lokal Banyuwangi ini dapat meningkatkan peran serta anak-anak muda di bidang kreatif.
 
“Generasi muda harus menjadi elemen penting. Apabila generasi mudanya memiliki kualitas unggul dalam memajukan budaya daerah yang didasarkan pada keimanan dan akhlak mulia, insya Allah bangsa ini akan besar,” tambahnya. 
 
 
 


(Romi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com