Di Publish Pada Tanggal : Kamis, 21 Desember 2017 11:41 WIB

Libur Panjang, Ke Pasar Mangrove di Batam Aja

Batam, HanTer – Siapa yang tidak ingin berwisata saat libur panjang di akhir Desember nanti? Siapa juga yang tak ingin mencari suasana baru, cerita baru, keasyikan baru, keseimbangan baru, dan spot fot baru yang instagramable. Yang mencari itu semua, silakan langkahkan kaki ke Pasar Mangrove di Kampung Terih, Nongsa, Batam. Long week end, 23-25 Desember 2017 nanti, Anda bisa menemukan banyak kebahagiaan di destinasi digital yang berbatasan dengan Singapura itu.
 
Cerminan hebohnya sudah terekam di dua even perdananya 10 dan 17 Desember silam. Di minggu pertama, sudah ada sekitar 700 orang yang berkunjung ke destinasi digital kreasi Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Kepri itu. 
 
Minggu keduanya malah lebih dahsyat lagi. Ratusan orang kembali ‘membanjiri’ Pasar Mangrove Batam. Yang dari lokal kembali hadir. Singaporean juga ikutan datang. Hasilnya? Semua sukses dibuat terpesona dengan alam dan budaya yang ada di border area tersebut.
 
"Tiap minggu selalu ada yang baru. Minggu lalu pasarnya sengaja kita sandingkan dengan Pasar Rajungan biar makin oke," kata Sunarsih, ketua Komunitas Penjelajah Alam Kepri (PARI). 
 
Kebetulan, PARI juga ikut berkolaborasi dengan GenPI dalam menggelar Pasar Mangrove. Kolaborasi tadi membuat destinasi digital tadi kian oke. Di event yang di set santai tersebut para wisatawan diajak untuk berinteraksi dengan alam serta budaya yang ada di Kampung Terih,  Nongsa Batam. Semuanya diajak happy. Menari, bermain gasing atau pun menjelajah hutan mangrove yang rindang.
 
"Sengaja kita buat seperti ini sehingga wisatawan betah serasa di kampung sendiri. Minggu lalu semuanya tanpa sungkan berbaur dengan masyarakat,” ucapnya. 
 
Acaranya pun dijamin tidak bikin boring. Yang suka budaya, ada panggung budaya yang bisa dinikmati. Yang suka petualang bisa menjelajah bisa ke hutan mangrove. “Dan yang suka kuliner dan cendramata tinggal ke Pasar Rajungan," kata Sunarsih.
 
Spot jembatan hutan mangrove yang keren pun jadi salah satu spot favorit wisatawan untuk bersantai dan berselfie ria. Dengan view ciamik dengan background Batam Center jadi spot wisatawan melihat sunset cantik Kota Batam. Dengan cepat mereka mengabadikan momen keren tersebut dengan kamera mereka. “Industri juga sangat support. Yang sedang menginap di Nongsa, diarahkan ke Pasar Mangrove. Kekuatannya jadi sangat besar,” ungkapnua. 
 
Sunarsih memang tak asal bicara. Tiap minggu, ada Batam View Beach Resort yang selalu setia menggiring tamunya untuk datang ke Pasar Mangrove. "Minggu lalu 70 wisatawan Singapura dan Malaysia kita arahkan ke sini setelah mereka berbelanja. Minggu depan kami upayakan lebih banyak lagi,” ucap GM Batam View Beach Resort Anddy Fong.
 
Anddy pun mengaku happy. Maklum, atraksi yang dijual ke wisman jadi bertambah. Ditambah lagi, ada experience baru yang bisa ditemukan di Pasar Mangrove. Dan marketnya, sangat pas dengan pasar Singapura dan Malaysia yang banyak menginap di Batam View Beach Resort. “Tamu kami kebanyakan dari Singapura dan Malaysia. Di sana Kampung Melayu asli seperti di Kampung Terih sudah tidak ada. Ini adalah semacam nostalgianya mereka mengunjungi Kampung Melayu yang asri seperti ini," kata Anddy Fong.
 
 
Dampak ekonominya pun langsung terasa. Ibu Sri Asih misalnya. Dia mengaku senang karena es kelapanya banyak di beli wisatawan. "Alhamdulillah ramai. Banyak yang beli, maklum di pantai pada cari yang segar-segar," katanya.
 
Pedagang makanan pun sama. Ibu Siti Zubaidah yang menjajakan nasi lemak serta seefood pun sumringah dengan ramainya acara tersebut. "Senang banget. Banyak yang jajan. Lumayan untungnya buat tambah uang dapur," kata istri nelayan tersebut.
 
Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuti juga ikut sumringah. Ia mengatakan pariwisata harus berjalan selaras serta mensejahterakan masyarakat.
 
“Di sinilah fungsi pariwisata. Pariwisata hadir untuk terus mensejahterakan masyarakat. Bayangkan jika seorang wisatawan mengeluarkan Rp 200 ribu, sudah Rp 100 juta uang beredar di Kampung Terih” kata Esthy.
 
Kepala Bidang Promosi Pameran, Diana Tikupasang pun ikut mengamini. Dia makin pede bisa menggaet banyak wisman dan wisnus via destinasi digital. "Kuncinya konsistensi serta kreatif melihat peluang. Saya yakin ini akan semakin besar lagi. Potensinya luar biasa," kata Diana.
 
Acungan dua jempol langsung diberikan Menpar Arief Yahya. Pesannya kepada GenPI hanya satu. Dia ingin GenPI selalu inovatif dan selalu fresh dalam menyelenggarakan kegiatan aktivasi komunitas. “Kenapa begitu? Karena karakteristik anak-anak milenial memang suka yang inovatif. Agar komunitas GenPI ini tetap relevan, sustainable, dan mampu menarik sebanyak mungkin followers dan friends maka setiap acaranya harus selalu mengandung unsur kebaruan,” ucap Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI. 
 
Yang dia maksud adalah 2C, yaitu Creative Value dan Commercial Value. Pertama, kreatif dalam mengangkat tema-tema pariwisata di media sosial, dari soal desain, angel, pemilihan kata, interaktif di medsos, sampai mengemas event. “Kuncinya, harus selalu fresh dan kekinian,” ucapnya. 
 
Dan yang kedua, event itu harus menciptakan nilai komersial yang bermanfaat bagi setiap anggota komunitas maupun masyarakat sekitar. “Saya jelaskan ke anak-anak GenPI, dalam bisnis itu ada operational return dan non operational return. Di event seperti pasar-pasar itu, komposisinya 70-85% untuk masyarakat, 15-30% untuk menghidupi komunitas GenPI. Angka itu memang tidak terlalu besar bagi GenPI, yang besar justru di data customer di non operational returnnya,” urainya.


(Hermansyah)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com