Di Publish Pada Tanggal : Sabtu, 24 Maret 2018 14:41 WIB

Peringati Hari Wayang Dunia, Ciptakan Marionette Khas Indonesia

Jakarta, HanTer - Seni wayang memiliki pesona dan nilai yang tetap aktual. Namun, kemasannya harus beradaptasi dan memiliki posisi tawar terhadap industri budaya pop. Salah satunya harus beradaptasi dengan media digital.
 
Demikian antara lain pandangan Dr. Maria Theresia Widyastuti, yang disampaikan dalam sarasehan wayang, yang digelar di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (21/03/2018).
 
Saat ini berbagai kebutuhan masyarakat, menurut Widyastuti, banyak memanfaatkan internet. Teknologi memudahkan kehidupan. Media digital menjadi wahana interaksi dan transaksi. Masyarakat makin bergantung pada penggunaan ponsel dan komputer (gaya hidup digital).
 
“Sepanjang tahun 2015-2025, era digitalisasi telah dan akan menghilangkan sekitar 1 – 1,5 miliar pekerjaan, karena posisi manusia diambil alih mesin otomatis,” ujar Widyastuti.
 
Menurut Widyastuti, pelestarian dan pengembangan budaya di masa depan, khususnya Wayang, harus lebih kreatif dan inovatif. Pengembangan tersebut, sebagai proses adaptasi seni budaya dalam era digital.
 
Di masa depan, lanjut Widyastuti, industri berbasis budaya merupakan industri potensial. Bukan hanya berfungsi sebagai tera nilai dan identitas bangsa, melainkan bernilai ekonomis. 
 
Berdasarkan data yang dipaparkan Widyastuti, bahwa sejumlah penggiat budaya banyak yang sudah mulai menggunakan media sosial sebagai wahana interaksi. Mereka telah mengimplementasikan teknologi dalam dunia seni budaya dengan mengupload karyanya di media sosial, youtube.
 
Satu hal paling fenomenal adalah penampilan Dalang Ki Enthus, yang berkolaborasi dengan Sinden asal Irlandia berkebangsaan Amerika, Megan Collin. Kolaborasi seniman antar bangsa ini viral di youtube, mencapai 2,217, 099 views. 
 
Karya Dalang Ki Enthus lainnya ; Wayang Ngaji (Ki Entus) 1,200,000 views, dan Hakekat Wahyu Kembar (Ki Enthus), 424,212  views. Dalang lain yang juga viral di youtube, antara lain, Bagong VS Ontorejo, 702,065 views, Dalang Ki Eko dan Percil Yudho, 1,760,763 views, dan Grajakan Banyuwangi  (Peye), 1,740,250 views. 
 
Sarasehan ini diselenggarakan UNIMA (Union Internationale de la Marionnette) Indonesia, dalam rangka memperingati ‘Hari Wayang Dunia.’ Menampilkan para pakar lain, diantaranya,  Drs. Suparmin Sunjoyo Sunjoyo (Ketua Umum SENA WANGI), DR. Darmoko, S.S., M.Hum (Javanese  Study Program Department of Area Studies Faculty of Humanities Universitas Indonesia), dan Dr. Al Zastrow Ngatawi (Councillor UNIMA Indonesia).
 
Hadir dalam kesempatan tersebut, Presiden UNIMA (Union Internationale de la Marionnette) Indonesia, Drs. TA. Samodra Sriwidjaja. Beliau mengharapkan dukungan semua elemen masyarakat, khususnya Pemerintah, agar peran UNIMA Indonesia dapat lebih nyata. 
 
“Upaya kita adalah agar nilai-nilai yang terkandung dalam Wayang dapat dilaksanakan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Menciptakan marionette khas Indonesia, serta menjadikan Indonesia sebagai Pusat Wayang Dunia,” harap Samodra
 


(romi)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus

Google News - harianterbit.com